Oke sekarang gue mau share ni cerpen yang udah lama terbengkalai di document laptop gue haha entahlah kapan ini di buatnya, kalo gak salah seetahun yang lalu dan gak tau juga dapet dari mana ide nya, gak bagus sih cuman di jamin orisinil no KW KW an haha cekidoot..
KU MASIH MENANTI SENYUM ITU
Aku
adalah Adrian, salah seorang mahasiswa tingkat pertama di salah satu
universitas negri terkenal di Indonesia.. Aku datang dari keluarga yang
tak kaya tapi bagiku hidupku sudah lebih
dari cukup saat ini karena ayahku selalu mengajarkan apa itu bersyukur dan
beliau lebih senang jika aku lebih sering melihat kebawah di bandingkan terlalu
sering menengadahkan kepala dan melihat ke atas, katanya.. agar aku tak
tersandung lalu sakit karena terjatuh.. aku adalah seorang yang punya mimpi dan
harapan yang tinggi terlepas itu tentang masa depan, karir ataupun cinta.
Bicara tentang cinta ternyata semua orang dapat mengartikannya dengan persepsi mereka
sendiri, entah itu bahagia, luka, haru, sedih,susah dan apapun yang mereka katakan
tentang cinta sudah pasti tak ada yang salah, karena kita semua punya dan
pernah merasakan cinta bahkan kita ada saat ini karena buah cinta orang tua
kita dulu. Bahkan ada yang menyebutkan seorang Hitler saja bunuh diri setelah
mengetahui istri yang di cintainya meninggal dunia. Maka tak heran sekejam
apapun seseorang, sekeras apapun dia, sudah pasti punya sesuatu di hatinya yang
biasa kita sebut “cinta” dan bagiku kini... cinta adalah menunggu, yah menunggu
jawaban tuhan atas segala harapan dan semua doa ku agar aku dan dirinya bisa
kembali bersama untuk waktu yang lebih lama lagi.
Inilah
cintaku...
Kelas sudah mulai kosong sore
itu, aku masih duduk di bangku paling belakang.. satu demi satu teman-temanku
beranjak pulang. Entahlah.. hari itu aku hanya ingin duduk lebih lama disini
yah sambil bernostalgia dan mengingat kembali semua yang telah aku jalani
selama dua tahun lebih di sekolah ini, karena satu bulan lagi, tepatnya bulan
Mei aku sudah menghadapi Ujian Nasional. Aku tak merasa cemas dengan kelulusan,
yang aku cemaskan hanyalah perpisahan.. yah benar sekali tak lama lagi aku akan
alami itu. Aku benci perpisahan, tempat ini seperti rumah kedua bagiku. Waktu
yang seakan takan berhenti berputar untuk selamanya ketika ku disini, dunia
yang seakan hanya ada dalam genggaman kami, juga mereka sahabat yang selalu ada
menghiburku, dan tentunya Yuli.. yang ku
rasakan ketenangan ketika bersamanya selama ini. Dan mungkin dialah yang
mengajarkan aku tentang kerasnya dan pahitnya sebuah mimpi juga harapan, Hidup
ini beban.. but you just must make it fun!! Itu yang Yuli katakan di akhir
ceritanya ketika aku mengadu tentang semua masalahku saat itu. Dia memang tak
lebih beruntung dariku, tapi semangat tuk menggapai mimpinya dan membuat
hidupnya lebih baiklah yang membuat aku jatuh hati padanya, dia adalah sosok
wanita yang tangguh yang tak jarang menyembunyikan air mata di balik senyum dan
tawa nya, gurat wajahnya yang terlihat tegar tetap terpancar dalam dirinya
meskipun aku tau, di balik semua itu sebenarnya dia sembunyikan kerapuhannya..
Inilah sosok wanita yang aku cintai hari ini, juga untuk esok, lusa dan
seterusnya.
Horeeeee luluus.. kita semua
lulus, “woy bro knapa lu mewek?? Kita lulus semua woy, yaelah cengeng banget
situ jadi orang.. smile dong, bentar lagi kan lo bakal jadi mahasiswa bukan
siswa lagi” ucap Rino, salah seorang sahabatku semenjak masuk SMA ini.. dan
inilah momen yang kita semua tunggu, yah kelulusan.. tapi aku tak mengharap ada
perpisahan setelah ini. Namun tetap saja semua pasti terjadi, dan akhirnya
beberapa bulan kemudian kita semua berpisah, termasuk aku dan Yuli.. kita
memutuskan untuk kuliah dan dia akan mengambil beasiswanya di kota yang berbeda
denganku, yah aku tak bisa menolak keinginannya walau memang berat tuk
mengatakan ‘iya’ tapi aku yakin, cinta itu adalah komitmen antara dua hati
untuk tetap saling menjaga, tak peduli seberapa jauh jarak pisahkan kita. Walau
saat itu aku ragu dengan istilah Long Distance Relationship, tapi tak
ada pilihan lain selain itu, dan kita pun sepakat untuk menjalani semua ini,
sampai kapankah?? Entahlah.. sampai kita terbiasa mungkin dengan kesendirian
sehingga kita tetap merasa bersama, walau itu hanya sebuah imajinasi belaka.
Waktu bergulir dengan cepat
sekali, dan kini akupun mulai mencari kerja sampingan di malam hari, bukan uang
jajan ku yang kurang.. tapi rasanya kesehatan Yuli adalah yang terpenting kali
ini, setelah sampai semester empat kami kuliah, Yuli terpaksa mengundurkan diri
dari beasiswanya karena penyakit yang semakin hari semakin menggrogoti tubuhnya.
Aku memutuskan mencari banyak pekerjaan diluar jam kuliahku untuk membeli
obat-obatan yang ia perlukan, sehingga aku bisa mengantarkan ke kotanya setiap
sebulan sekali. Bukankah pengorbanan dan cinta tak bisa di pisahkan?? Bukankah
besarnya cinta itu terlihat dari besarnya pengorbanan kita?? Yah dan kini aku
melakukannya untuk Yuli, karena aku tak mau jika harus kehilangan orang yang
aku sayang untuk kedua kalinya, cukup terasa hancur dunia ketika dua tahun yang
lalu ibu pergi karena sakit yang tak kunjung sembuh. Karena sesungguhnya kehilangan
akan membuat kita belajar untuk menjaga apa yang masih kita miliki hari ini dan
tetap mensyukurinya.
Yuli tetap tegar disana, ketika
tuhan tak mengijinkannya untuk lebih lama menjadi seorang mahasiswi, dia bisa
mengubah dirinya menjadi seorang guru kursus di rumahnya, dia hanya tak ingin
terlalu memikirkan nasib hidupnya, ketika tuhan mulai menutup indah masa
remajanya.. dia tetap bersyukur dan tak pernah protes akan nasib yang tengah di
alaminya. Semua akan indah pada waktunya, yah semua akan indah pada waktunya
sayang.. itu mungkin kata-kata yang dia sering ucapkan ketika aku menggerutu
dan protes pada tuhan akan jalan takdir
yang DIA goreskan untuk Yuli. Dia tetap merasa dirinya baik-baik saja walaupun
aku tau hari demi hari kondisinya tak kunjung membaik juga. Bukankah terkadang
hidup ini tak adil kawan?? “Tapi rasanya akan lebih tak adil jika kita tak
mensyukuri apa yang telah tuhan berikan pada kita hingga saat ini” itu yang
Yuli katakan di akhir perbincangan kami tadi malam lewat telepon.
DUA
BULAN KEMUDIAN.....
Hari ini aku duduk termenung di
bandara, tanganku masih menggenggam erat jari-jari lentik milik Yuli, seakan
aku tak ingin membiarkannya pergi begitu saja. Hari ini dia akan terbang ke
Singapura untuk pengobatan kanker darahnya, dan seminggu kebelakang kita sudah
resmi bertunangan dan mengikat janji bahwa satu tahun setelah aku lulus kuliah
kita akan menikah dan akan hidup dalam kebahagiaan. Dia akan menjalani
pengobatan di Singapura selama dua minggu, syukurlah.. seluruh biaya pengobatan
ini akan di tanggung oleh saudara jauhnya, karena dia ingin kembali sehat dan
hidup normal sebelum kita menikah kelak, semoga saja kali ini tuhan lebih
berbaik hati dan mengabulkan harapan kami. Tuhan tidak tuli kan?? Yah tentu
saja Dia maha sempurna tanpa kekurangan satu hal pun. Akhirnya waktunya Yuli
untuk berangkat, aku peluk erat tubuhnya serta ku kecup keningnya sebelum dia
pergi, dari kejauhan kulihat dia masih sempat melambaikan tangannya sebelum
memasuki pesawat yang sesaat lagi akan tinggal landas dan terbang ke langit
luas siang ini. Tak terasa perlahan ada yang menetes dari kedua belah mataku.
Hari demi hari terus kulalui
dengan ketidak sabaran untuk bertemu Yuli, kemarin sore terakhir dia
meneleponku katanya lusa adalah operasi pamungkas yang akan dia jalani, kita
bercerita banyak kemarin.. dari mulai kesehatannya, perasaan tegang dan takut
yang terus menghantuinya, kerinduannya padaku juga pada keluarganya dan ketidak
sabarannya untuk menggendong seorang anak kelak ketika kita sudah hidup bersama
dalam ikatan pernikahan, kita juga berdebat soal itu.. aku yang ingin anak
pertamaku adalah seorang laki-laki, dan dia yang kukuh pada keinginannya untuk
memiliki seorang anak perempuan terlebih dahulu dengan beribu alasannya,
sebenarnya aku tak punya masalah dengan itu... kini yang aku inginkan dia cepat
kembali dan sembuh seperti sedia kala, aku hanya ingin segera melihat senyuman nya
tapi bukan senyum yang menyembunyikan air mata seperti yang sering kulihat
belakangan ini di wajah ayu nya. Aku yakin saat-saat itu takan lama lagi akan
datang padaku, bahkan aku sempat menyiapkan sebuah party kecil untuk menyambut
kedatangannya seminggu lagi, tentu saja aku siapkan juga menu favorite nya
semenjak SMA dulu, Karedok.
Pagi ini aku sudah siap untuk
berkemas, tepat jam sepuluh nanti Yuli tiba di Bandara Soekarno hatta.. aku
harus datang lebih awal dari jadwal semula, rumah kontrakan ku yang sudah ku
sulap untuk menyambut kedatangannya, Karedok yang sudah siap tersedia sebagai
menu utama dan tentu saja semua harus berjalan mulus sesuai rencana. Aku
kembali melihat arloji di lengan kiri ku, sudah lewat lima menit dari jam
sepuluh tepat.. mungkin macet, bercanda yang tak masuk akal namun aku tetap
menghibur diriku, akhirnya pesawat yang sudah ku tunggu ber jam-jam mendarat
juga.. mataku langsung awas melihat ke pintu pesawat yang perlahan terbuka,
satu..dua..tiga orang-orang keluar dari pesawat itu, aku terus menunggu tapi
yang di tunggu tak kunjung ada, sampai orang terakhir yang ku lihat keluar dari
pesawat itu turun tapi sepertinya tak ada lagi penumpang yang tersisa disana.
Oh mungkin bukan pesawat ini, gumamku di dalam hati.. dan tak terasa hari sudah
mulai petang, ku masih terduduk lesu di sana, ada cemas yang mulai datang.. ada
takut yang mulai menghantuiku. Dengan sigap ku mulai menelepon keluarganya,
berharap ada seseorang yang mengetahui keberadaan Yuli.. tapi mereka tak
mengetahuinya termasuk saudara jauhnya yang membiayai perawatannya disana, aku
coba hubungi langsung Yuli, namun nomor nya tak dapat di hubungi dan kini
langit sudah mulai gelap, sang surya pun perlahan sudah mulai tenggelam
pertanda sang rembulan yang sudah siap menggantikan tugasnya menemani langit
Jakarta malam ini.
Esoknya aku kembali ke bandara
bersama keluarganya, raut wajah saudara jauhnya pun juga terlihat gelisah pagi ini. Seluruh
kerabatnya di negri seribu satu larangan pun sudah dia hubungi untuk melacak keberadaan
Yuli, namun sayang hasilnya tetaplah nihil. Akhirnya kami memutuskan untuk
menyusul kesana lusa nanti setelah kami mengurus paspor dan segalanya, setelah
kami berunding sejenak.. lusa nanti saudara jauhnya dan aku yang akan berangkat
kesana, aku agak sedikit tenang waktu itu karena aku sendiri leluasa mencari
Yuli disana. Aku tak sabar menunggu lusa datang, oh tuhan apalagi yang akan kau
tunjukan saat ini padaku.. aku masih bersabar dan tetap yakin bahwa hal baik
akan terjadi di balik ini semua. Kau takan mengecewakanku kan?? semoga saja
tidak.
Siang itu akhirnya kami
mendarat di Changi international Airport singapura, dan rumah sakitnya pun tak
jauh berada dari sini, sepuluh menit kami naik taxi dan kami pun sudah sampai
di Changi general Hospital, tempat dimana Yuli menjalani serangkaian operasi
medis nya. Aku dan saudaranya langsung menuju ke bagian informasi, dan kami
langsung di antar ke salah satu ruangan dokter spesialis yang melakukan operasi
pada Yuli. Aku benar-benar tegang dan tak sabar ingin memeluknya, dokter itu
sudah terlihat cukup tua dan raut wajah nya juga ramah.. dia tersenyum ketika
kami masuk, “where is Adrian??” tanya dokter itu, aku sempat kaget karena
dokter itu mengetahui namaku, oh you.. i know if you will come here, ucap dokter
itu saat kami bersalaman. Dia mulai menceritakan semuanya dari awal Yuli di
rawat, dia juga menceritakan semua perasaan dan harapan Yuli, juga sebuah surat
yang Yuli titipkan untukku, aku semakin tak sabar dan bertanya dimana Yuli
sekarang dan bagaimana kondisinya, dokter itu lalu membawa kami ke sebuah
ruangan di rumah sakit itu, nampak kosong ruang ini.. hanya ada sebuah lemari
besi meja dan kursi disana, kami di persilahkan duduk kembali dan dokter itu
ingin aku terlebih dahulu membaca suratnya.
“Dear
my Lovely.. Adrian”
Kamu masih percaya akan cinta??
Apa yang membuatnya kuat untuk di pertahankan, apa yang membuat orang rela
berjuang dan berkorban.. aku pun begitu, aku masih bertahan untuk hidup sampai
saat ini karena aku tau walaupun tuhan mengambil segalanya dari hidupku tapi
aku yakin tuhan takan pernah mengambil sosok yang aku butuhkan untuk melalui
ini semua, yaitu kamu dri.. namun aku juga tau terkadang cinta harus selalu
dibumbui dengan kesempurnaan, aku tak munafik akan hal itu.. dan sekarang aku
bukanlah Yuli yang dulu, ternyata aku tak setegar yang kamu katakan, aku juga
berjanji takan pernah tuk egois ketika harus kehilanganmu saat ini, karena aku
sadar aku takan pernah bisa lagi menjadi sosok yang sempurna untuk cintamu. Kau
boleh pergi dan aku sangat akan menghargai kejujuranmu, aku tak ingin kau
menyesal karena aku memang menyayangimu. Sesungguhnya tak akan pernah ada
penyesalan ketika kau memang benar-benar menyayangi seseorang.
Love you..
Love you..
Ketika aku selesai membaca
surat itu dokter itu pun lalu menuntunku ke depan pintu sebuah ruangan disana,
ketika aku membuka pintu itu nampak Yuli sedang duduk di kursi roda menatap
gedung-gedung pencakar langit diluar jendela kamar itu, dia melihatku sejenak
dan tersenyum. Aku menghampirinya dan langsung memeluk tubuh kurusnya, tak
terasa air mata meleleh di kedua pipiku, aku masih belum bisa menahan tangis
ketika memeluknya untuk beberapa saat. “aku tau kau pasti datang dri, bawa aku
pulang” ucapnya di tengah tangisanku, aku hanya tersenyum dan menganggukan
kepalaku saat itu.. Yuli bertanya padaku “ apa kau masih mau menikahiku,
menjadikan aku ibu dari anak-anakmu kelak??” aku kembali menganggukan kepala
dan tersenyum padanya. “Walaupun aku tak secantik dulu?? walau kini aku tak
punya sehelai pun rambut yang bisa kau belai seperti biasanya?? dan aku kini
adalah seorang wanita yang takan bisa lepas dari kursi roda ini, Kau masih mau
menikahiku?? apa kau takan menyesalinya kelak??” Kembali Yuli bertanya padaku..
aku kembali tersenyum dan membelai pipinya, “kau benar sayang, harus ada sosok
sempurna dalam sebuah cinta, dan aku yakin hanya kamu yang bisa jadi sosok
sempurna itu untukku, kau masih tetap Yuli yang dulu aku sayang. Aku tak peduli
akan sosok Yuli dulu ataupun sekarang, takan ada yang mampu mengubah rasaku..
kau masih terlihat cantik bagiku, walau tanpa rambut sebagai mahkota seorang perempuan,
atau kursi roda yang akhirnya tak bisa kau tinggalkan, aku tak peduli itu.. aku
takan merubah rasaku, sekalipun hidup ini akan memaksanya, tapi aku yakin takan
ada rasa yang berubah”.
Yuli pun menangis setelah
mendengar ucapanku, sempat terlihat senyum di wajahnya, yah.. itu adalah senyum
kebahagiaan, senyum yang sudah lama tak kulihat di raut wajah ayu nya, itulah
senyuman yang selama ini aku tunggu darinya. Senyum yang tak menyembunyikan
kepedihan di baliknya.. terima kasih tuhan, aku akan selalu mengisi ketidak
sempurnaannya dan selalu menjaganya serta aku akan selalu berusaha menjadi
sosok yang sempurna untuknya, karena Yuli begitu sangat berarti untukku.****
“Iya yang.. hasil BMP nya
fositive, tapi gak papa ko yang kan dokter juga manusia kali aja dia salah
ngediagnosanya, janji ko gak bakalan apa-apa :) dan janji bakal sembuh buat
ayang, percaya ya..”. Malam itu aku tak sengaja membuka kembali draft di ponsel
ku, nampak masih jelas pesan dari Yuli yang ku terima dua tahun silam.. ku
mengecup kening Yuli yang sedang tertidur pulas di sampingku kini. Aku berjanji
akan selalu menjadi suami yang senantiasa menjaganya. Terima kasih tuhan, kan
selalu ku jaga bidadari mu ini.
Kesempurnaan dalam cinta hanya
akan kau dapatkan ketika kau benar-benar menyayanginya, langit malam yang gelap
takan pernah terlihat indah jika saja bintang-bintang enggan untuk bertaburan
disana, juga sang rembulan yang tetap setia menjadi terang dalam pekatnya
langit malam menjadi satu kesatuan yang membuat malam begitu indah. Begitupun
aku, Yuli atau kalian semua.. kita bisa saling melengkapi ketika rasa sayang
itu nyata, kesempurnaan fisik bukanlah hal utama dalam sebuah percintaan. Kau
hanya butuh menjadikannya sebagai seseorang yang sempurna di matamu, dan
bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah titipkan anugerah itu padamu, kau hanya
perlu menyayangi dan menjaganya.. yah menjaganya, sebelum tuhan kembali
mengambil yang Dia titipkan padamu. Sebelum kelak kau menyesali semuanya.
Karena segala sesuatu yang datang, cepat atau lambat sudah pasti akan pergi dan
tak ada satupun yang bisa menjaminnya kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar