Selasa, 20 Januari 2015

Kumpulan Cerpen Part I


Oke sekarang gue mau share ni cerpen yang udah lama terbengkalai di document laptop gue haha entahlah kapan ini di buatnya, kalo gak salah seetahun yang lalu dan gak tau juga dapet dari mana ide nya, gak bagus sih cuman di jamin orisinil no KW KW an haha cekidoot..


KU MASIH MENANTI SENYUM ITU

Aku adalah Adrian, salah seorang mahasiswa tingkat pertama di salah satu universitas negri terkenal di Indonesia.. Aku datang dari keluarga yang tak  kaya tapi bagiku hidupku sudah lebih dari cukup saat ini karena ayahku selalu mengajarkan apa itu bersyukur dan beliau lebih senang jika aku lebih sering melihat kebawah di bandingkan terlalu sering menengadahkan kepala dan melihat ke atas, katanya.. agar aku tak tersandung lalu sakit karena terjatuh.. aku adalah seorang yang punya mimpi dan harapan yang tinggi terlepas itu tentang masa depan, karir ataupun cinta. Bicara tentang cinta ternyata semua orang dapat mengartikannya dengan persepsi mereka sendiri, entah itu bahagia, luka, haru, sedih,susah dan apapun yang mereka katakan tentang cinta sudah pasti tak ada yang salah, karena kita semua punya dan pernah merasakan cinta bahkan kita ada saat ini karena buah cinta orang tua kita dulu. Bahkan ada yang menyebutkan seorang Hitler saja bunuh diri setelah mengetahui istri yang di cintainya meninggal dunia. Maka tak heran sekejam apapun seseorang, sekeras apapun dia, sudah pasti punya sesuatu di hatinya yang biasa kita sebut “cinta” dan bagiku kini... cinta adalah menunggu, yah menunggu jawaban tuhan atas segala harapan dan semua doa ku agar aku dan dirinya bisa kembali bersama untuk waktu yang lebih lama lagi.
Inilah cintaku...
                 Kelas sudah mulai kosong sore itu, aku masih duduk di bangku paling belakang.. satu demi satu teman-temanku beranjak pulang. Entahlah.. hari itu aku hanya ingin duduk lebih lama disini yah sambil bernostalgia dan mengingat kembali semua yang telah aku jalani selama dua tahun lebih di sekolah ini, karena satu bulan lagi, tepatnya bulan Mei aku sudah menghadapi Ujian Nasional. Aku tak merasa cemas dengan kelulusan, yang aku cemaskan hanyalah perpisahan.. yah benar sekali tak lama lagi aku akan alami itu. Aku benci perpisahan, tempat ini seperti rumah kedua bagiku. Waktu yang seakan takan berhenti berputar untuk selamanya ketika ku disini, dunia yang seakan hanya ada dalam genggaman kami, juga mereka sahabat yang selalu ada menghiburku, dan tentunya  Yuli.. yang ku rasakan ketenangan ketika bersamanya selama ini. Dan mungkin dialah yang mengajarkan aku tentang kerasnya dan pahitnya sebuah mimpi juga harapan, Hidup ini beban.. but you just must make it fun!! Itu yang Yuli katakan di akhir ceritanya ketika aku mengadu tentang semua masalahku saat itu. Dia memang tak lebih beruntung dariku, tapi semangat tuk menggapai mimpinya dan membuat hidupnya lebih baiklah yang membuat aku jatuh hati padanya, dia adalah sosok wanita yang tangguh yang tak jarang menyembunyikan air mata di balik senyum dan tawa nya, gurat wajahnya yang terlihat tegar tetap terpancar dalam dirinya meskipun aku tau, di balik semua itu sebenarnya dia sembunyikan kerapuhannya.. Inilah sosok wanita yang aku cintai hari ini, juga untuk esok, lusa dan seterusnya.
                 Horeeeee luluus.. kita semua lulus, “woy bro knapa lu mewek?? Kita lulus semua woy, yaelah cengeng banget situ jadi orang.. smile dong, bentar lagi kan lo bakal jadi mahasiswa bukan siswa lagi” ucap Rino, salah seorang sahabatku semenjak masuk SMA ini.. dan inilah momen yang kita semua tunggu, yah kelulusan.. tapi aku tak mengharap ada perpisahan setelah ini. Namun tetap saja semua pasti terjadi, dan akhirnya beberapa bulan kemudian kita semua berpisah, termasuk aku dan Yuli.. kita memutuskan untuk kuliah dan dia akan mengambil beasiswanya di kota yang berbeda denganku, yah aku tak bisa menolak keinginannya walau memang berat tuk mengatakan ‘iya’ tapi aku yakin, cinta itu adalah komitmen antara dua hati untuk tetap saling menjaga, tak peduli seberapa jauh jarak pisahkan kita. Walau saat itu aku ragu dengan istilah Long Distance Relationship, tapi tak ada pilihan lain selain itu, dan kita pun sepakat untuk menjalani semua ini, sampai kapankah?? Entahlah.. sampai kita terbiasa mungkin dengan kesendirian sehingga kita tetap merasa bersama, walau itu hanya sebuah imajinasi belaka.
                 Waktu bergulir dengan cepat sekali, dan kini akupun mulai mencari kerja sampingan di malam hari, bukan uang jajan ku yang kurang.. tapi rasanya kesehatan Yuli adalah yang terpenting kali ini, setelah sampai semester empat kami kuliah, Yuli terpaksa mengundurkan diri dari beasiswanya karena penyakit yang semakin hari semakin menggrogoti tubuhnya. Aku memutuskan mencari banyak pekerjaan diluar jam kuliahku untuk membeli obat-obatan yang ia perlukan, sehingga aku bisa mengantarkan ke kotanya setiap sebulan sekali. Bukankah pengorbanan dan cinta tak bisa di pisahkan?? Bukankah besarnya cinta itu terlihat dari besarnya pengorbanan kita?? Yah dan kini aku melakukannya untuk Yuli, karena aku tak mau jika harus kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya, cukup terasa hancur dunia ketika dua tahun yang lalu ibu pergi karena sakit yang tak kunjung sembuh. Karena sesungguhnya kehilangan akan membuat kita belajar untuk menjaga apa yang masih kita miliki hari ini dan tetap mensyukurinya.

                 Yuli tetap tegar disana, ketika tuhan tak mengijinkannya untuk lebih lama menjadi seorang mahasiswi, dia bisa mengubah dirinya menjadi seorang guru kursus di rumahnya, dia hanya tak ingin terlalu memikirkan nasib hidupnya, ketika tuhan mulai menutup indah masa remajanya.. dia tetap bersyukur dan tak pernah protes akan nasib yang tengah di alaminya. Semua akan indah pada waktunya, yah semua akan indah pada waktunya sayang.. itu mungkin kata-kata yang dia sering ucapkan ketika aku menggerutu dan  protes pada tuhan akan jalan takdir yang DIA goreskan untuk Yuli. Dia tetap merasa dirinya baik-baik saja walaupun aku tau hari demi hari kondisinya tak kunjung membaik juga. Bukankah terkadang hidup ini tak adil kawan?? “Tapi rasanya akan lebih tak adil jika kita tak mensyukuri apa yang telah tuhan berikan pada kita hingga saat ini” itu yang Yuli katakan di akhir perbincangan kami tadi malam lewat telepon.
DUA BULAN KEMUDIAN.....
                
                 Hari ini aku duduk termenung di bandara, tanganku masih menggenggam erat jari-jari lentik milik Yuli, seakan aku tak ingin membiarkannya pergi begitu saja. Hari ini dia akan terbang ke Singapura untuk pengobatan kanker darahnya, dan seminggu kebelakang kita sudah resmi bertunangan dan mengikat janji bahwa satu tahun setelah aku lulus kuliah kita akan menikah dan akan hidup dalam kebahagiaan. Dia akan menjalani pengobatan di Singapura selama dua minggu, syukurlah.. seluruh biaya pengobatan ini akan di tanggung oleh saudara jauhnya, karena dia ingin kembali sehat dan hidup normal sebelum kita menikah kelak, semoga saja kali ini tuhan lebih berbaik hati dan mengabulkan harapan kami. Tuhan tidak tuli kan?? Yah tentu saja Dia maha sempurna tanpa kekurangan satu hal pun. Akhirnya waktunya Yuli untuk berangkat, aku peluk erat tubuhnya serta ku kecup keningnya sebelum dia pergi, dari kejauhan kulihat dia masih sempat melambaikan tangannya sebelum memasuki pesawat yang sesaat lagi akan tinggal landas dan terbang ke langit luas siang ini. Tak terasa perlahan ada yang menetes dari kedua belah mataku.
                 Hari demi hari terus kulalui dengan ketidak sabaran untuk bertemu Yuli, kemarin sore terakhir dia meneleponku katanya lusa adalah operasi pamungkas yang akan dia jalani, kita bercerita banyak kemarin.. dari mulai kesehatannya, perasaan tegang dan takut yang terus menghantuinya, kerinduannya padaku juga pada keluarganya dan ketidak sabarannya untuk menggendong seorang anak kelak ketika kita sudah hidup bersama dalam ikatan pernikahan, kita juga berdebat soal itu.. aku yang ingin anak pertamaku adalah seorang laki-laki, dan dia yang kukuh pada keinginannya untuk memiliki seorang anak perempuan terlebih dahulu dengan beribu alasannya, sebenarnya aku tak punya masalah dengan itu... kini yang aku inginkan dia cepat kembali dan sembuh seperti sedia kala, aku hanya ingin segera melihat senyuman nya tapi bukan senyum yang menyembunyikan air mata seperti yang sering kulihat belakangan ini di wajah ayu nya. Aku yakin saat-saat itu takan lama lagi akan datang padaku, bahkan aku sempat menyiapkan sebuah party kecil untuk menyambut kedatangannya seminggu lagi, tentu saja aku siapkan juga menu favorite nya semenjak SMA dulu, Karedok.
                 Pagi ini aku sudah siap untuk berkemas, tepat jam sepuluh nanti Yuli tiba di Bandara Soekarno hatta.. aku harus datang lebih awal dari jadwal semula, rumah kontrakan ku yang sudah ku sulap untuk menyambut kedatangannya, Karedok yang sudah siap tersedia sebagai menu utama dan tentu saja semua harus berjalan mulus sesuai rencana. Aku kembali melihat arloji di lengan kiri ku, sudah lewat lima menit dari jam sepuluh tepat.. mungkin macet, bercanda yang tak masuk akal namun aku tetap menghibur diriku, akhirnya pesawat yang sudah ku tunggu ber jam-jam mendarat juga.. mataku langsung awas melihat ke pintu pesawat yang perlahan terbuka, satu..dua..tiga orang-orang keluar dari pesawat itu, aku terus menunggu tapi yang di tunggu tak kunjung ada, sampai orang terakhir yang ku lihat keluar dari pesawat itu turun tapi sepertinya tak ada lagi penumpang yang tersisa disana. Oh mungkin bukan pesawat ini, gumamku di dalam hati.. dan tak terasa hari sudah mulai petang, ku masih terduduk lesu di sana, ada cemas yang mulai datang.. ada takut yang mulai menghantuiku. Dengan sigap ku mulai menelepon keluarganya, berharap ada seseorang yang mengetahui keberadaan Yuli.. tapi mereka tak mengetahuinya termasuk saudara jauhnya yang membiayai perawatannya disana, aku coba hubungi langsung Yuli, namun nomor nya tak dapat di hubungi dan kini langit sudah mulai gelap, sang surya pun perlahan sudah mulai tenggelam pertanda sang rembulan yang sudah siap menggantikan tugasnya menemani langit Jakarta malam ini.
                 Esoknya aku kembali ke bandara bersama keluarganya, raut wajah saudara jauhnya pun  juga terlihat gelisah pagi ini. Seluruh kerabatnya di negri seribu satu larangan pun sudah dia hubungi untuk melacak keberadaan Yuli, namun sayang hasilnya tetaplah nihil. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusul kesana lusa nanti setelah kami mengurus paspor dan segalanya, setelah kami berunding sejenak.. lusa nanti saudara jauhnya dan aku yang akan berangkat kesana, aku agak sedikit tenang waktu itu karena aku sendiri leluasa mencari Yuli disana. Aku tak sabar menunggu lusa datang, oh tuhan apalagi yang akan kau tunjukan saat ini padaku.. aku masih bersabar dan tetap yakin bahwa hal baik akan terjadi di balik ini semua. Kau takan mengecewakanku kan?? semoga saja tidak.
                 Siang itu akhirnya kami mendarat di Changi international Airport singapura, dan rumah sakitnya pun tak jauh berada dari sini, sepuluh menit kami naik taxi dan kami pun sudah sampai di Changi general Hospital, tempat dimana Yuli menjalani serangkaian operasi medis nya. Aku dan saudaranya langsung menuju ke bagian informasi, dan kami langsung di antar ke salah satu ruangan dokter spesialis yang melakukan operasi pada Yuli. Aku benar-benar tegang dan tak sabar ingin memeluknya, dokter itu sudah terlihat cukup tua dan raut wajah nya juga ramah.. dia tersenyum ketika kami masuk, “where is Adrian??” tanya dokter itu, aku sempat kaget karena dokter itu mengetahui namaku, oh you.. i know if you will come here, ucap dokter itu saat kami bersalaman. Dia mulai menceritakan semuanya dari awal Yuli di rawat, dia juga menceritakan semua perasaan dan harapan Yuli, juga sebuah surat yang Yuli titipkan untukku, aku semakin tak sabar dan bertanya dimana Yuli sekarang dan bagaimana kondisinya, dokter itu lalu membawa kami ke sebuah ruangan di rumah sakit itu, nampak kosong ruang ini.. hanya ada sebuah lemari besi meja dan kursi disana, kami di persilahkan duduk kembali dan dokter itu ingin aku terlebih dahulu membaca suratnya.
“Dear my Lovely.. Adrian”
                 Kamu masih percaya akan cinta?? Apa yang membuatnya kuat untuk di pertahankan, apa yang membuat orang rela berjuang dan berkorban.. aku pun begitu, aku masih bertahan untuk hidup sampai saat ini karena aku tau walaupun tuhan mengambil segalanya dari hidupku tapi aku yakin tuhan takan pernah mengambil sosok yang aku butuhkan untuk melalui ini semua, yaitu kamu dri.. namun aku juga tau terkadang cinta harus selalu dibumbui dengan kesempurnaan, aku tak munafik akan hal itu.. dan sekarang aku bukanlah Yuli yang dulu, ternyata aku tak setegar yang kamu katakan, aku juga berjanji takan pernah tuk egois ketika harus kehilanganmu saat ini, karena aku sadar aku takan pernah bisa lagi menjadi sosok yang sempurna untuk cintamu. Kau boleh pergi dan aku sangat akan menghargai kejujuranmu, aku tak ingin kau menyesal karena aku memang menyayangimu. Sesungguhnya tak akan pernah ada penyesalan ketika kau memang benar-benar menyayangi seseorang.
Love you..
                 Ketika aku selesai membaca surat itu dokter itu pun lalu menuntunku ke depan pintu sebuah ruangan disana, ketika aku membuka pintu itu nampak Yuli sedang duduk di kursi roda menatap gedung-gedung pencakar langit diluar jendela kamar itu, dia melihatku sejenak dan tersenyum. Aku menghampirinya dan langsung memeluk tubuh kurusnya, tak terasa air mata meleleh di kedua pipiku, aku masih belum bisa menahan tangis ketika memeluknya untuk beberapa saat. “aku tau kau pasti datang dri, bawa aku pulang” ucapnya di tengah tangisanku, aku hanya tersenyum dan menganggukan kepalaku saat itu.. Yuli bertanya padaku “ apa kau masih mau menikahiku, menjadikan aku ibu dari anak-anakmu kelak??” aku kembali menganggukan kepala dan tersenyum padanya. “Walaupun aku tak secantik dulu?? walau kini aku tak punya sehelai pun rambut yang bisa kau belai seperti biasanya?? dan aku kini adalah seorang wanita yang takan bisa lepas dari kursi roda ini, Kau masih mau menikahiku?? apa kau takan menyesalinya kelak??” Kembali Yuli bertanya padaku.. aku kembali tersenyum dan membelai pipinya, “kau benar sayang, harus ada sosok sempurna dalam sebuah cinta, dan aku yakin hanya kamu yang bisa jadi sosok sempurna itu untukku, kau masih tetap Yuli yang dulu aku sayang. Aku tak peduli akan sosok Yuli dulu ataupun sekarang, takan ada yang mampu mengubah rasaku.. kau masih terlihat cantik bagiku, walau tanpa rambut sebagai mahkota seorang perempuan, atau kursi roda yang akhirnya tak bisa kau tinggalkan, aku tak peduli itu.. aku takan merubah rasaku, sekalipun hidup ini akan memaksanya, tapi aku yakin takan ada rasa yang berubah”.
                 Yuli pun menangis setelah mendengar ucapanku, sempat terlihat senyum di wajahnya, yah.. itu adalah senyum kebahagiaan, senyum yang sudah lama tak kulihat di raut wajah ayu nya, itulah senyuman yang selama ini aku tunggu darinya. Senyum yang tak menyembunyikan kepedihan di baliknya.. terima kasih tuhan, aku akan selalu mengisi ketidak sempurnaannya dan selalu menjaganya serta aku akan selalu berusaha menjadi sosok yang sempurna untuknya, karena Yuli begitu sangat berarti untukku.****


                 “Iya yang.. hasil BMP nya fositive, tapi gak papa ko yang kan dokter juga manusia kali aja dia salah ngediagnosanya, janji ko gak bakalan apa-apa :) dan janji bakal sembuh buat ayang, percaya ya..”. Malam itu aku tak sengaja membuka kembali draft di ponsel ku, nampak masih jelas pesan dari Yuli yang ku terima dua tahun silam.. ku mengecup kening Yuli yang sedang tertidur pulas di sampingku kini. Aku berjanji akan selalu menjadi suami yang senantiasa menjaganya. Terima kasih tuhan, kan selalu ku jaga bidadari mu ini.
                

                 Kesempurnaan dalam cinta hanya akan kau dapatkan ketika kau benar-benar menyayanginya, langit malam yang gelap takan pernah terlihat indah jika saja bintang-bintang enggan untuk bertaburan disana, juga sang rembulan yang tetap setia menjadi terang dalam pekatnya langit malam menjadi satu kesatuan yang membuat malam begitu indah. Begitupun aku, Yuli atau kalian semua.. kita bisa saling melengkapi ketika rasa sayang itu nyata, kesempurnaan fisik bukanlah hal utama dalam sebuah percintaan. Kau hanya butuh menjadikannya sebagai seseorang yang sempurna di matamu, dan bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah titipkan anugerah itu padamu, kau hanya perlu menyayangi dan menjaganya.. yah menjaganya, sebelum tuhan kembali mengambil yang Dia titipkan padamu. Sebelum kelak kau menyesali semuanya. Karena segala sesuatu yang datang, cepat atau lambat sudah pasti akan pergi dan tak ada satupun yang bisa menjaminnya kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar