Sabtu, 24 Januari 2015

 Cahaya dalam Cinta               

Aku masih terduduk lesu di depan kios-kios yang sebentar lagi akan tutup ini, Matahari sudah terlihat bersiap-siap untuk tergelincir dan beristirahat di malam ini.. langit yang memayungi kota ini cukup cerah, bercampur dengan suara bising klakson kendaraan yang lalu lalang juga debu dan asap dari knalpot-knalpot angkutan umum dan bis-bis yang ada di terminal itu. Hari ini cukup cerah seperti hari-hari sebelumnya.. mungkin hanya hidupku saja yang kelam, entahlah.. yang jelas aku hanya menjalani kerasnya hidup ini dan mencoba tetap bertahan, apa salahku?? Aku hanya seorang remaja berumur 19 tahun yang entah dari siapa aku dilahirkan dan juga kemana orang tua ku sekarang. Orang lain bilang malaikat di bumi itu adalah ibu.. lalu kemana sekarang malaikatku itu?? Kenapa dulu aku di temukan di dalam sebuah kardus yang di tinggalkan dekat tempat pembuangan sampah?? Mungkin hanya itu sekilas cerita yang kutau dari asal usulku.. Ibu panti yang dulu sempat menceritakan itu semua, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kabur dan lari ke terminal ini, toh aku fikir aku masih bisa mencari uang dari hasil ngamen, disini juga aku bebas melakukan semuanya.. nyopet,ngeroko,mabuk?? Alah.. itu sudah jadi rutinitasku ko.
            Malam ini hujan turun di iringi jeritan petir di atas langit sana yang sempat membuyarkan lamunanku, entahlah.. terkadang aku benci dengan kehidupan ini, aku benci dengan orang-orang tua berkerah dan berdasi yang duduk tenang di gedung mewah yang terhalangi pagar besi yang menjulang tinggi ke cakrawala,  aku juga benci pada kedua orang tua yang telah menelantarkanku dulu, andai saja aku bisa bertemu saat ini dengan mereka berdua.. sudah barang tentu akan ku caci maki mereka dan ku cabik-cabik isi dadanya, agar mereka juga merasakan penderitaan yang sama dengan yang aku rasakan saat ini.. adil bukan?? Alaaah jangan bicara keadilan di negri ini.. sudah tentu keadilan itu hanya bagi mereka yang berdompet tebal dan mempunyai jabatan.. seperti sebagian orang yang sering menjadi mangsaku saat aku mencopet, dan terakhir.. saat ini aku membenci Tuhan !! aku tak pernah meminta untuk di lahirkan padanya, apalagi dengan kondisi seperti sekarang ini.
            Hujan mulai reda.. mungkin malam sudah terlampau larut, tapi terminal ini tak pernah sepi.. aku langsung berjalan menuju kerumunan orang yang sedang bertaruh peruntungan di sebrang terminal sana, yah.. aku berjudi untuk melipat gandakan hasil mencopetku.. sehingga aku bisa membeli baju dan sepatu ini.. sehingga aku bisa memasang tindik di telingaku.. dan aku bisa mendapatkan kontrakan untuk berteduh di belakang terminal ini, walau hanya beralaskan kardus dan beratapkan seng bekas.. sekali lagi aku mendapat pelajaran, tak pernah ada yang gratis di negara ini, walaupun hanya lahan kumuh di pinggir-pinggir kali ataupun di belakang terminal, kau harus tetap membayarnya. Malam ini nampaknya Dewi Fortuna sedang berada di pihakku.. dalam 5 kali putaran aku mendapatkan semuanya, sampai bandar pun geleng-geleng kepala karena pagi ini dia harus pulang dengan tangan kosong. Inilah hidup, banyak jalan pintas yang bisa kau lalui.. dosa?? Hina?? Tenanglah.. mereka para pemimpin itu juga akan kebagian dosanya toh aku menjadi anak gelandangan gara-gara keserakahan mereka yang tak pernah kenyang melahap semuanya.. andai negri ini makmur, sudah pasti tak akan ada orang-orang seperti kami.. dan bahkan mereka jelas jauh lebih hina daripada kita, dengan label pendidikan yang tinggi dan macam-macam gelar panjang yang ada di belakang namanya mereka mencuri, mencuri dari rakyat kecil seperti kami.. mencuri semua yang ada di negri ini, bukan hanya uang tetapi semuanya !!
            Hari sepertinya sudah semakin pagi, aku segera pulang karena bandar sudah menutup lapaknya malam ini.. pasti esok hari dia bekerja keras agar bisa kembali membuka lapak judi miliknya untuk esok malam. Pagi ini aku bisa tidur nyenyak dan mimpi indah.. hari ini aku tak akan ngamen, tak akan pergi ke terminal.. aku hanya akan duduk manis sambil menuangkan minuman keras di gubukku.. aku akan berlagak seperti orang kaya hari ini. Mabuk sepusnya, makan sampai kenyang dan tidur pulas tentunya, tak ada salahnya bukan aku ingin menikmati kesenangan semu dalam puing reruntuhan hidupku ini, malam nanti aku akan puaskan hasratku dan tentunya tempat lokalisasi di ujung jalan ini tepat untuk menjadi tempat wisataku nanti. Mataku kini mulai terasa berat.. sambil di iringi adzan subuh yang berkumandang aku sudah tak kuasa untuk menahan rasa kantuk ini.. perlahan gelap dan sunyi yang aku rasakan sampai akhirnya akupun terlelap dengan sejuta mimpi indahku di pagi ini.
            Suara hingar bingar klakson bis dan angkutan umum bercampur dengan para calo yang berteriak-teriak pada para calon penumpang agar menaiki bis yang akan membayar hasil calonya dan juga suara-suara pedagang asongan yang lebih seperti memaksa agar jualannya di beli oleh para penumpang di terminal itu membangunkanku dari mimpi indah ini.. tak terasa sang matahari telah bertengger di atas langit sana dengan gagahnya, rupanya hari sudah kelewat siang. Aku sejenak memperhatikan mereka, setiap hari banting tulang untuk menyambung hidup..sebagian dari mereka masih saja mencari jalan yang halal untuk hidupnya, tak seperti aku dan beberapa kawanku.. aku hanya tersenyum sinis sambil mengejek dalam hati ini “huhh.. kapan mereka akan kaya jika hanya bekerja seperti itu, tak ada kemajuan !! ” aku lantas pergi ke warung makan di samping terminal.. memuaskan semua rasa laparku, mengobrol dengan supir-supir yang sedang istirahat dan pasti mereka punya cerita baru hasil dari perjalanannya atau mengobrol dengan orang-orang kecil lainnya sambil menyumpah serapahi para pemerintah yang sedang bersenang-senang di kursi empuknya dalam ruangan yang ber AC tentunya, cukup lama aku di tempat ini sambil menunggu malam nanti rencanaku untuk berwisata.
            Akhirnya malam yang aku nanti sudah tiba, dengan memakai baju terbaikku aku langsung bergegas menuju tempat lokalisasi itu, tempatnya cukup besar dengan banyak kamar kecil di dalamnya.. setelah melihat-lihat aku memilih gadis yang ku suka, aku suka dengan indah bola mata gadis ini. Dalam waktu singkat kami berdua sudah ada dalam kamar kecil ini, aku mulai basa-basi sambil berkenalan dengannya.. namanya Intan dan ternyata dia baru bekerja disini selama tiga minggu.. pantas saja aku agak asing dengan wajahnya, tapi jujur saja.. tatapan matanya berbeda dengan gadis lain yang pernah melayaniku disini, aku penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh lagi.. entalah apa yang menyebabkan hatiku semakin bergejolak ketika dia menatapku, ku lihat dalam-dalam mata sayu itu, aku melihat sebuah garis penderitaan di bola matanya, ya sama seperti aku melihat kedua mataku saat aku bercermin. Entah apa yang merasuki jiwaku saat itu, aku membayarnya hanya untuk mendengarkan dia bercerita di sampingku, aku merasakan sesuatu yang beda dalam diri ini, entahlah.. tapi yang jelas rasa ini belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam hidupku, apakah ini bahagia?? Sering aku merasa bahagia ketika menang judi atau berhasil mencopet.. tapi bahagia ini sungguh beda, sambil mendengarkan cerita hidup Intan aku larut dalam kebahagiaan itu. Akhirnya waktuku habis.. Intan berjanji akan melanjutkan ceritanya ketika kita bertemu lagi, dia juga merasa aneh padaku.. kenapa aku membayarnya hanya untuk mendengarkan dia bercerita. Sekali lagi entahlah apa namanya ini yang jelas aku bahagia saat di dekatnya, bahagia yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
            Semakin hari rasa ini benar-benar menyiksaku, aku “ketagihan” untuk bertemu Intan dan perasaan ganjil ini yang membuatku lebih giat mencari uang agar aku bisa sesering mungkin ke tempat Intan bekerja dan mendengarkan semua kisah klasik hidupnya. Intan yang malang, dia ternyata senasib denganku bahkan nasibnya lebih buruk daripadaku, dia sejak kecil hidup di panti asuhan dan tak tahu siapa orang tua yang telah melahirkannya dulu sampai ketika dia beranjak remaja seorang wanita setengah baya mengadopsinya, dia mulai merasakan bangku sekolah di SMP waktu itu.. sampai akhirnya wanita yang mengadopsinya kembali menikah dengan pria lain, karena mantan suaminya dipenjara untuk waktu yang tak sebentar. Namun malang nasibnya, dirinya di nodai oleh ayah tirinya yang baru, bukan hanya sekali atau dua kali tapi sampai intan hamil karena ulah bejat lelaki itu, dia pun memutuskan untuk kabur dari rumah wanita itu karena dia fikir andai ibu angkatnya mengetahui semua ini pastilah rumah tangganya akan hancur kembali, dan intan tak mau melihat hal itu terjadi, biar saja dia yang akan menanggung aib nya sendiri.. sampai akhirnya dia menjadi gelandangan sepertiku, merasakan kerasnya hidup di jalanan sepertiku, bahkan mungkin itu lebih keras baginya karena dia seorang wanita yang tengah mengandung di usianya yang masih muda. Sampai akhirnya karena terlalu sering kecapean dan rahimnya yang masih muda untuk usianya dia mengalami keguguran di usianya yang masih belia.
            Waktu terus berputar dengan cepatnya dan aku masih sering menemui intan untuk bertukar cerita dengannya, berbagi pengalaman pahit hidup dan menceritakan kisah kita berdua yang jujur saja itu semua membuatku semakin nyaman berada dekat dengan dirinya, untuk sekian kalinya aku tak dapat meluapkan perasaanku saat itu dengan kata-kata, hanya hati ini yang dapat berbicara tentang rasa yang mengekangku, sampai pada suatu malam aku mengungkapkan semuanya pada intan, perlahan rona wajahnya berubah.. bibir tipisnya yang di balut lipstik merah itu tersenyum, tetesan air mata jatuh di kedua sudut matanya.. dia semakin terlihat cantik malam itu. Intan hanya menganggukan kepala perlahan ketika aku berkata padanya bahwa aku ingin hidup bersamanya untuk selamanya, memulai hidup baru yang lebih baik.. meninggalkan dunia kelam yang saat ini kita jalani, yah.. dia mau pergi bersamaku tanpa terbersit rasa ragu di gurat wajahnya, malam itu langit secerah hati dan harapanku, Intan memelukku sejenak sebelum aku pulang dan berjanji akan menjemputnya esok pagi dari tempat ini.
            Aku sekarang sudah duduk di kursi kereta ini, disampingku nampak intan dengan wajah cerianya menggenggam erat jemari tanganku.. wajahnya seakan berkata bahwa kita pasti bisa hidup bersama dengan lebih baik, dan melewati semua ini berdua. Kalian tahu?? Tak tau kemana sekarang aku harus pergi, aku hanya ingin meninggalkan kota ini dengan sejuta cerita kepedihannya, yang pasti aku selalu merasa tenang saat disampingnya, saat menatap wajah tegar miliknya. Mungkin ini terasa gila, aku pergi ke kota lain bersamanya dan berharap ada secercah harapan baru yang lebih baik untuk hidup kita berdua tanpa aku tahu apa yang harus aku lakukan disana, aku hanya ingin merubah semuanya.. dan yang ku tahu tuhan pasti mendengar bisikan hatiku yang berharap padanya, dan yang ku yakini.. Tuhan tak akan pernah membenciku sedikitpun walau dulu aku sempat membencinya sebelum aku bertemu dengan Intan, yah.. dialah malaikat yang sempat tuhan kirimkan untukku agar aku bisa bangkit dan bangun dari mimpi burukku selama ini, dialah tetesan semangat yang telah membasuh hatiku agar dia tak layu dan lantas mati. Dia lah yang kini menjadi setitik cahaya dalam gelapnya hari-hariku.. ternyata tuhan maha adil, telah ku temukan setitik cahaya dalam keruhnya kehidupanku. Ternyata Tuhan masih memperhatikanku jauh dari atas sana, seorang pendosa yang dulu sering meragukan-NYA
            Aku kecup kening bidadari yang sudah terlelap dan bersandar dibahuku ini, tak terasa kereta perlahan sudah berlari meninggalkan kota lamaku, tempat aku menemukan arti hidup dari seorang pelacur di pinggiran terminal.
            Mungkin kisah cintaku tak seromantis kisah romeo dan juliet, atau mungkin rama dan sinta dengan masing-masing ceritanya, ceritaku hanya satu dari miliyaran cerita cinta yang ada di bumi ini. Tapi setidaknya cinta ini yang membuat hatiku berkata bahwa aku harus meninggalkan kehidupan kelamku dan mulai berdamai dengan masa lalu.

Selasa, 20 Januari 2015

Kumpulan Cerpen Part I


Oke sekarang gue mau share ni cerpen yang udah lama terbengkalai di document laptop gue haha entahlah kapan ini di buatnya, kalo gak salah seetahun yang lalu dan gak tau juga dapet dari mana ide nya, gak bagus sih cuman di jamin orisinil no KW KW an haha cekidoot..


KU MASIH MENANTI SENYUM ITU

Aku adalah Adrian, salah seorang mahasiswa tingkat pertama di salah satu universitas negri terkenal di Indonesia.. Aku datang dari keluarga yang tak  kaya tapi bagiku hidupku sudah lebih dari cukup saat ini karena ayahku selalu mengajarkan apa itu bersyukur dan beliau lebih senang jika aku lebih sering melihat kebawah di bandingkan terlalu sering menengadahkan kepala dan melihat ke atas, katanya.. agar aku tak tersandung lalu sakit karena terjatuh.. aku adalah seorang yang punya mimpi dan harapan yang tinggi terlepas itu tentang masa depan, karir ataupun cinta. Bicara tentang cinta ternyata semua orang dapat mengartikannya dengan persepsi mereka sendiri, entah itu bahagia, luka, haru, sedih,susah dan apapun yang mereka katakan tentang cinta sudah pasti tak ada yang salah, karena kita semua punya dan pernah merasakan cinta bahkan kita ada saat ini karena buah cinta orang tua kita dulu. Bahkan ada yang menyebutkan seorang Hitler saja bunuh diri setelah mengetahui istri yang di cintainya meninggal dunia. Maka tak heran sekejam apapun seseorang, sekeras apapun dia, sudah pasti punya sesuatu di hatinya yang biasa kita sebut “cinta” dan bagiku kini... cinta adalah menunggu, yah menunggu jawaban tuhan atas segala harapan dan semua doa ku agar aku dan dirinya bisa kembali bersama untuk waktu yang lebih lama lagi.
Inilah cintaku...
                 Kelas sudah mulai kosong sore itu, aku masih duduk di bangku paling belakang.. satu demi satu teman-temanku beranjak pulang. Entahlah.. hari itu aku hanya ingin duduk lebih lama disini yah sambil bernostalgia dan mengingat kembali semua yang telah aku jalani selama dua tahun lebih di sekolah ini, karena satu bulan lagi, tepatnya bulan Mei aku sudah menghadapi Ujian Nasional. Aku tak merasa cemas dengan kelulusan, yang aku cemaskan hanyalah perpisahan.. yah benar sekali tak lama lagi aku akan alami itu. Aku benci perpisahan, tempat ini seperti rumah kedua bagiku. Waktu yang seakan takan berhenti berputar untuk selamanya ketika ku disini, dunia yang seakan hanya ada dalam genggaman kami, juga mereka sahabat yang selalu ada menghiburku, dan tentunya  Yuli.. yang ku rasakan ketenangan ketika bersamanya selama ini. Dan mungkin dialah yang mengajarkan aku tentang kerasnya dan pahitnya sebuah mimpi juga harapan, Hidup ini beban.. but you just must make it fun!! Itu yang Yuli katakan di akhir ceritanya ketika aku mengadu tentang semua masalahku saat itu. Dia memang tak lebih beruntung dariku, tapi semangat tuk menggapai mimpinya dan membuat hidupnya lebih baiklah yang membuat aku jatuh hati padanya, dia adalah sosok wanita yang tangguh yang tak jarang menyembunyikan air mata di balik senyum dan tawa nya, gurat wajahnya yang terlihat tegar tetap terpancar dalam dirinya meskipun aku tau, di balik semua itu sebenarnya dia sembunyikan kerapuhannya.. Inilah sosok wanita yang aku cintai hari ini, juga untuk esok, lusa dan seterusnya.
                 Horeeeee luluus.. kita semua lulus, “woy bro knapa lu mewek?? Kita lulus semua woy, yaelah cengeng banget situ jadi orang.. smile dong, bentar lagi kan lo bakal jadi mahasiswa bukan siswa lagi” ucap Rino, salah seorang sahabatku semenjak masuk SMA ini.. dan inilah momen yang kita semua tunggu, yah kelulusan.. tapi aku tak mengharap ada perpisahan setelah ini. Namun tetap saja semua pasti terjadi, dan akhirnya beberapa bulan kemudian kita semua berpisah, termasuk aku dan Yuli.. kita memutuskan untuk kuliah dan dia akan mengambil beasiswanya di kota yang berbeda denganku, yah aku tak bisa menolak keinginannya walau memang berat tuk mengatakan ‘iya’ tapi aku yakin, cinta itu adalah komitmen antara dua hati untuk tetap saling menjaga, tak peduli seberapa jauh jarak pisahkan kita. Walau saat itu aku ragu dengan istilah Long Distance Relationship, tapi tak ada pilihan lain selain itu, dan kita pun sepakat untuk menjalani semua ini, sampai kapankah?? Entahlah.. sampai kita terbiasa mungkin dengan kesendirian sehingga kita tetap merasa bersama, walau itu hanya sebuah imajinasi belaka.
                 Waktu bergulir dengan cepat sekali, dan kini akupun mulai mencari kerja sampingan di malam hari, bukan uang jajan ku yang kurang.. tapi rasanya kesehatan Yuli adalah yang terpenting kali ini, setelah sampai semester empat kami kuliah, Yuli terpaksa mengundurkan diri dari beasiswanya karena penyakit yang semakin hari semakin menggrogoti tubuhnya. Aku memutuskan mencari banyak pekerjaan diluar jam kuliahku untuk membeli obat-obatan yang ia perlukan, sehingga aku bisa mengantarkan ke kotanya setiap sebulan sekali. Bukankah pengorbanan dan cinta tak bisa di pisahkan?? Bukankah besarnya cinta itu terlihat dari besarnya pengorbanan kita?? Yah dan kini aku melakukannya untuk Yuli, karena aku tak mau jika harus kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya, cukup terasa hancur dunia ketika dua tahun yang lalu ibu pergi karena sakit yang tak kunjung sembuh. Karena sesungguhnya kehilangan akan membuat kita belajar untuk menjaga apa yang masih kita miliki hari ini dan tetap mensyukurinya.

                 Yuli tetap tegar disana, ketika tuhan tak mengijinkannya untuk lebih lama menjadi seorang mahasiswi, dia bisa mengubah dirinya menjadi seorang guru kursus di rumahnya, dia hanya tak ingin terlalu memikirkan nasib hidupnya, ketika tuhan mulai menutup indah masa remajanya.. dia tetap bersyukur dan tak pernah protes akan nasib yang tengah di alaminya. Semua akan indah pada waktunya, yah semua akan indah pada waktunya sayang.. itu mungkin kata-kata yang dia sering ucapkan ketika aku menggerutu dan  protes pada tuhan akan jalan takdir yang DIA goreskan untuk Yuli. Dia tetap merasa dirinya baik-baik saja walaupun aku tau hari demi hari kondisinya tak kunjung membaik juga. Bukankah terkadang hidup ini tak adil kawan?? “Tapi rasanya akan lebih tak adil jika kita tak mensyukuri apa yang telah tuhan berikan pada kita hingga saat ini” itu yang Yuli katakan di akhir perbincangan kami tadi malam lewat telepon.
DUA BULAN KEMUDIAN.....
                
                 Hari ini aku duduk termenung di bandara, tanganku masih menggenggam erat jari-jari lentik milik Yuli, seakan aku tak ingin membiarkannya pergi begitu saja. Hari ini dia akan terbang ke Singapura untuk pengobatan kanker darahnya, dan seminggu kebelakang kita sudah resmi bertunangan dan mengikat janji bahwa satu tahun setelah aku lulus kuliah kita akan menikah dan akan hidup dalam kebahagiaan. Dia akan menjalani pengobatan di Singapura selama dua minggu, syukurlah.. seluruh biaya pengobatan ini akan di tanggung oleh saudara jauhnya, karena dia ingin kembali sehat dan hidup normal sebelum kita menikah kelak, semoga saja kali ini tuhan lebih berbaik hati dan mengabulkan harapan kami. Tuhan tidak tuli kan?? Yah tentu saja Dia maha sempurna tanpa kekurangan satu hal pun. Akhirnya waktunya Yuli untuk berangkat, aku peluk erat tubuhnya serta ku kecup keningnya sebelum dia pergi, dari kejauhan kulihat dia masih sempat melambaikan tangannya sebelum memasuki pesawat yang sesaat lagi akan tinggal landas dan terbang ke langit luas siang ini. Tak terasa perlahan ada yang menetes dari kedua belah mataku.
                 Hari demi hari terus kulalui dengan ketidak sabaran untuk bertemu Yuli, kemarin sore terakhir dia meneleponku katanya lusa adalah operasi pamungkas yang akan dia jalani, kita bercerita banyak kemarin.. dari mulai kesehatannya, perasaan tegang dan takut yang terus menghantuinya, kerinduannya padaku juga pada keluarganya dan ketidak sabarannya untuk menggendong seorang anak kelak ketika kita sudah hidup bersama dalam ikatan pernikahan, kita juga berdebat soal itu.. aku yang ingin anak pertamaku adalah seorang laki-laki, dan dia yang kukuh pada keinginannya untuk memiliki seorang anak perempuan terlebih dahulu dengan beribu alasannya, sebenarnya aku tak punya masalah dengan itu... kini yang aku inginkan dia cepat kembali dan sembuh seperti sedia kala, aku hanya ingin segera melihat senyuman nya tapi bukan senyum yang menyembunyikan air mata seperti yang sering kulihat belakangan ini di wajah ayu nya. Aku yakin saat-saat itu takan lama lagi akan datang padaku, bahkan aku sempat menyiapkan sebuah party kecil untuk menyambut kedatangannya seminggu lagi, tentu saja aku siapkan juga menu favorite nya semenjak SMA dulu, Karedok.
                 Pagi ini aku sudah siap untuk berkemas, tepat jam sepuluh nanti Yuli tiba di Bandara Soekarno hatta.. aku harus datang lebih awal dari jadwal semula, rumah kontrakan ku yang sudah ku sulap untuk menyambut kedatangannya, Karedok yang sudah siap tersedia sebagai menu utama dan tentu saja semua harus berjalan mulus sesuai rencana. Aku kembali melihat arloji di lengan kiri ku, sudah lewat lima menit dari jam sepuluh tepat.. mungkin macet, bercanda yang tak masuk akal namun aku tetap menghibur diriku, akhirnya pesawat yang sudah ku tunggu ber jam-jam mendarat juga.. mataku langsung awas melihat ke pintu pesawat yang perlahan terbuka, satu..dua..tiga orang-orang keluar dari pesawat itu, aku terus menunggu tapi yang di tunggu tak kunjung ada, sampai orang terakhir yang ku lihat keluar dari pesawat itu turun tapi sepertinya tak ada lagi penumpang yang tersisa disana. Oh mungkin bukan pesawat ini, gumamku di dalam hati.. dan tak terasa hari sudah mulai petang, ku masih terduduk lesu di sana, ada cemas yang mulai datang.. ada takut yang mulai menghantuiku. Dengan sigap ku mulai menelepon keluarganya, berharap ada seseorang yang mengetahui keberadaan Yuli.. tapi mereka tak mengetahuinya termasuk saudara jauhnya yang membiayai perawatannya disana, aku coba hubungi langsung Yuli, namun nomor nya tak dapat di hubungi dan kini langit sudah mulai gelap, sang surya pun perlahan sudah mulai tenggelam pertanda sang rembulan yang sudah siap menggantikan tugasnya menemani langit Jakarta malam ini.
                 Esoknya aku kembali ke bandara bersama keluarganya, raut wajah saudara jauhnya pun  juga terlihat gelisah pagi ini. Seluruh kerabatnya di negri seribu satu larangan pun sudah dia hubungi untuk melacak keberadaan Yuli, namun sayang hasilnya tetaplah nihil. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusul kesana lusa nanti setelah kami mengurus paspor dan segalanya, setelah kami berunding sejenak.. lusa nanti saudara jauhnya dan aku yang akan berangkat kesana, aku agak sedikit tenang waktu itu karena aku sendiri leluasa mencari Yuli disana. Aku tak sabar menunggu lusa datang, oh tuhan apalagi yang akan kau tunjukan saat ini padaku.. aku masih bersabar dan tetap yakin bahwa hal baik akan terjadi di balik ini semua. Kau takan mengecewakanku kan?? semoga saja tidak.
                 Siang itu akhirnya kami mendarat di Changi international Airport singapura, dan rumah sakitnya pun tak jauh berada dari sini, sepuluh menit kami naik taxi dan kami pun sudah sampai di Changi general Hospital, tempat dimana Yuli menjalani serangkaian operasi medis nya. Aku dan saudaranya langsung menuju ke bagian informasi, dan kami langsung di antar ke salah satu ruangan dokter spesialis yang melakukan operasi pada Yuli. Aku benar-benar tegang dan tak sabar ingin memeluknya, dokter itu sudah terlihat cukup tua dan raut wajah nya juga ramah.. dia tersenyum ketika kami masuk, “where is Adrian??” tanya dokter itu, aku sempat kaget karena dokter itu mengetahui namaku, oh you.. i know if you will come here, ucap dokter itu saat kami bersalaman. Dia mulai menceritakan semuanya dari awal Yuli di rawat, dia juga menceritakan semua perasaan dan harapan Yuli, juga sebuah surat yang Yuli titipkan untukku, aku semakin tak sabar dan bertanya dimana Yuli sekarang dan bagaimana kondisinya, dokter itu lalu membawa kami ke sebuah ruangan di rumah sakit itu, nampak kosong ruang ini.. hanya ada sebuah lemari besi meja dan kursi disana, kami di persilahkan duduk kembali dan dokter itu ingin aku terlebih dahulu membaca suratnya.
“Dear my Lovely.. Adrian”
                 Kamu masih percaya akan cinta?? Apa yang membuatnya kuat untuk di pertahankan, apa yang membuat orang rela berjuang dan berkorban.. aku pun begitu, aku masih bertahan untuk hidup sampai saat ini karena aku tau walaupun tuhan mengambil segalanya dari hidupku tapi aku yakin tuhan takan pernah mengambil sosok yang aku butuhkan untuk melalui ini semua, yaitu kamu dri.. namun aku juga tau terkadang cinta harus selalu dibumbui dengan kesempurnaan, aku tak munafik akan hal itu.. dan sekarang aku bukanlah Yuli yang dulu, ternyata aku tak setegar yang kamu katakan, aku juga berjanji takan pernah tuk egois ketika harus kehilanganmu saat ini, karena aku sadar aku takan pernah bisa lagi menjadi sosok yang sempurna untuk cintamu. Kau boleh pergi dan aku sangat akan menghargai kejujuranmu, aku tak ingin kau menyesal karena aku memang menyayangimu. Sesungguhnya tak akan pernah ada penyesalan ketika kau memang benar-benar menyayangi seseorang.
Love you..
                 Ketika aku selesai membaca surat itu dokter itu pun lalu menuntunku ke depan pintu sebuah ruangan disana, ketika aku membuka pintu itu nampak Yuli sedang duduk di kursi roda menatap gedung-gedung pencakar langit diluar jendela kamar itu, dia melihatku sejenak dan tersenyum. Aku menghampirinya dan langsung memeluk tubuh kurusnya, tak terasa air mata meleleh di kedua pipiku, aku masih belum bisa menahan tangis ketika memeluknya untuk beberapa saat. “aku tau kau pasti datang dri, bawa aku pulang” ucapnya di tengah tangisanku, aku hanya tersenyum dan menganggukan kepalaku saat itu.. Yuli bertanya padaku “ apa kau masih mau menikahiku, menjadikan aku ibu dari anak-anakmu kelak??” aku kembali menganggukan kepala dan tersenyum padanya. “Walaupun aku tak secantik dulu?? walau kini aku tak punya sehelai pun rambut yang bisa kau belai seperti biasanya?? dan aku kini adalah seorang wanita yang takan bisa lepas dari kursi roda ini, Kau masih mau menikahiku?? apa kau takan menyesalinya kelak??” Kembali Yuli bertanya padaku.. aku kembali tersenyum dan membelai pipinya, “kau benar sayang, harus ada sosok sempurna dalam sebuah cinta, dan aku yakin hanya kamu yang bisa jadi sosok sempurna itu untukku, kau masih tetap Yuli yang dulu aku sayang. Aku tak peduli akan sosok Yuli dulu ataupun sekarang, takan ada yang mampu mengubah rasaku.. kau masih terlihat cantik bagiku, walau tanpa rambut sebagai mahkota seorang perempuan, atau kursi roda yang akhirnya tak bisa kau tinggalkan, aku tak peduli itu.. aku takan merubah rasaku, sekalipun hidup ini akan memaksanya, tapi aku yakin takan ada rasa yang berubah”.
                 Yuli pun menangis setelah mendengar ucapanku, sempat terlihat senyum di wajahnya, yah.. itu adalah senyum kebahagiaan, senyum yang sudah lama tak kulihat di raut wajah ayu nya, itulah senyuman yang selama ini aku tunggu darinya. Senyum yang tak menyembunyikan kepedihan di baliknya.. terima kasih tuhan, aku akan selalu mengisi ketidak sempurnaannya dan selalu menjaganya serta aku akan selalu berusaha menjadi sosok yang sempurna untuknya, karena Yuli begitu sangat berarti untukku.****


                 “Iya yang.. hasil BMP nya fositive, tapi gak papa ko yang kan dokter juga manusia kali aja dia salah ngediagnosanya, janji ko gak bakalan apa-apa :) dan janji bakal sembuh buat ayang, percaya ya..”. Malam itu aku tak sengaja membuka kembali draft di ponsel ku, nampak masih jelas pesan dari Yuli yang ku terima dua tahun silam.. ku mengecup kening Yuli yang sedang tertidur pulas di sampingku kini. Aku berjanji akan selalu menjadi suami yang senantiasa menjaganya. Terima kasih tuhan, kan selalu ku jaga bidadari mu ini.
                

                 Kesempurnaan dalam cinta hanya akan kau dapatkan ketika kau benar-benar menyayanginya, langit malam yang gelap takan pernah terlihat indah jika saja bintang-bintang enggan untuk bertaburan disana, juga sang rembulan yang tetap setia menjadi terang dalam pekatnya langit malam menjadi satu kesatuan yang membuat malam begitu indah. Begitupun aku, Yuli atau kalian semua.. kita bisa saling melengkapi ketika rasa sayang itu nyata, kesempurnaan fisik bukanlah hal utama dalam sebuah percintaan. Kau hanya butuh menjadikannya sebagai seseorang yang sempurna di matamu, dan bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah titipkan anugerah itu padamu, kau hanya perlu menyayangi dan menjaganya.. yah menjaganya, sebelum tuhan kembali mengambil yang Dia titipkan padamu. Sebelum kelak kau menyesali semuanya. Karena segala sesuatu yang datang, cepat atau lambat sudah pasti akan pergi dan tak ada satupun yang bisa menjaminnya kembali.