Selasa, 09 Desember 2014

Intan, setitik cahaya di hati

                Aku masih terduduk lesu di depan kios-kios yang sebentar lagi akan tutup ini, Matahari sudah terlihat bersiap-siap untuk tergelincir dan beristirahat di malam ini.. langit yang memayungi kota ini cukup cerah, bercampur dengan suara bising klakson kendaraan yang lalu lalang juga debu dan asap dari knalpot-knalpot angkutan umum dan bis-bis yang ada di terminal itu. Hari ini cukup cerah seperti hari-hari sebelumnya.. mungkin hanya hidupku saja yang kelam, entahlah.. yang jelas aku hanya menjalani kerasnya hidup ini dan mencoba tetap bertahan, apa salahku?? Aku hanya seorang remaja berumur 19 tahun yang entah dari siapa aku dilahirkan dan juga kemana orang tua ku sekarang. Orang lain bilang malaikat di bumi itu adalah ibu.. lalu kemana sekarang malaikatku itu?? Kenapa dulu aku di temukan di dalam sebuah kardus yang di tinggalkan dekat tempat pembuangan sampah?? Mungkin hanya itu sekilas cerita yang kutau dari asal usulku.. Ibu panti yang dulu sempat menceritakan itu semua, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kabur dan lari ke terminal ini, toh aku fikir aku masih bisa mencari uang dari hasil ngamen, disini juga aku bebas melakukan semuanya.. nyopet,ngeroko,mabuk?? Alah.. itu sudah jadi rutinitasku ko.
            Malam ini hujan turun di iringi jeritan petir di atas langit sana yang sempat membuyarkan lamunanku, entahlah.. terkadang aku benci dengan kehidupan ini, aku benci dengan orang-orang tua berkerah dan berdasi yang duduk tenang di gedung mewah yang terhalangi pagar besi yang menjulang tinggi ke cakrawala,  aku juga benci pada kedua orang tua yang telah menelantarkanku dulu, andai saja aku bisa bertemu saat ini dengan mereka berdua.. sudah barang tentu akan ku caci maki mereka dan ku cabik-cabik isi dadanya, agar mereka juga merasakan penderitaan yang sama dengan yang aku rasakan saat ini.. adil bukan?? Alaaah jangan bicara keadilan di negri ini.. sudah tentu keadilan itu hanya bagi mereka yang berdompet tebal dan mempunyai jabatan.. seperti sebagian orang yang sering menjadi mangsaku saat aku mencopet, dan terakhir.. saat ini aku membenci Tuhan !! aku tak pernah meminta untuk di lahirkan padanya, apalagi dengan kondisi seperti sekarang ini.
            Hujan mulai reda.. mungkin malam sudah terlampau larut, tapi terminal ini tak pernah sepi.. aku langsung berjalan menuju kerumunan orang yang sedang bertaruh peruntungan di sebrang terminal sana, yah.. aku berjudi untuk melipat gandakan hasil mencopetku.. sehingga aku bisa membeli baju dan sepatu ini.. sehingga aku bisa memasang tindik di telingaku.. dan aku bisa mendapatkan kontrakan untuk berteduh di belakang terminal ini, walau hanya beralaskan kardus dan beratapkan seng bekas.. sekali lagi aku mendapat pelajaran, tak pernah ada yang gratis di negara ini, walaupun hanya lahan kumuh di pinggir-pinggir kali ataupun di belakang terminal, kau harus tetap membayarnya. Malam ini nampaknya Dewi Fortuna sedang berada di pihakku.. dalam 5 kali putaran aku mendapatkan semuanya, sampai bandar pun geleng-geleng kepala karena pagi ini dia harus pulang dengan tangan kosong. Inilah hidup, banyak jalan pintas yang bisa kau lalui.. dosa?? Hina?? Tenanglah.. mereka para pemimpin itu juga akan kebagian dosanya toh aku menjadi anak gelandangan gara-gara keserakahan mereka yang tak pernah kenyang melahap semuanya.. andai negri ini makmur, sudah pasti tak akan ada orang-orang seperti kami.. dan bahkan mereka jelas jauh lebih hina daripada kita, dengan label pendidikan yang tinggi dan macam-macam gelar panjang yang ada di belakang namanya mereka mencuri, mencuri dari rakyat kecil seperti kami.. mencuri semua yang ada di negri ini, bukan hanya uang tetapi semuanya !!
            Hari sepertinya sudah semakin pagi, aku segera pulang karena bandar sudah menutup lapaknya malam ini.. pasti esok hari dia bekerja keras agar bisa kembali membuka lapak judi miliknya untuk esok malam. Pagi ini aku bisa tidur nyenyak dan mimpi indah.. hari ini aku tak akan ngamen, tak akan pergi ke terminal.. aku hanya akan duduk manis sambil menuangkan minuman keras di gubukku.. aku akan berlagak seperti orang kaya hari ini. Mabuk sepusnya, makan sampai kenyang dan tidur pulas tentunya, tak ada salahnya bukan aku ingin menikmati kesenangan semu dalam puing reruntuhan hidupku ini, malam nanti aku akan puaskan hasratku dan tentunya tempat lokalisasi di ujung jalan ini tepat untuk menjadi tempat wisataku nanti. Mataku kini mulai terasa berat.. sambil di iringi adzan subuh yang berkumandang aku sudah tak kuasa untuk menahan rasa kantuk ini.. perlahan gelap dan sunyi yang aku rasakan sampai akhirnya akupun terlelap dengan sejuta mimpi indahku di pagi ini.
            Suara hingar bingar klakson bis dan angkutan umum bercampur dengan para calo yang berteriak-teriak pada para calon penumpang agar menaiki bis yang akan membayar hasil calonya dan juga suara-suara pedagang asongan yang lebih seperti memaksa agar jualannya di beli oleh para penumpang di terminal itu membangunkanku dari mimpi indah ini.. tak terasa sang matahari telah bertengger di atas langit sana dengan gagahnya, rupanya hari sudah kelewat siang. Aku sejenak memperhatikan mereka, setiap hari banting tulang untuk menyambung hidup..sebagian dari mereka masih saja mencari jalan yang halal untuk hidupnya, tak seperti aku dan beberapa kawanku.. aku hanya tersenyum sinis sambil mengejek dalam hati ini “huhh.. kapan mereka akan kaya jika hanya bekerja seperti itu, tak ada kemajuan !! ” aku lantas pergi ke warung makan di samping terminal.. memuaskan semua rasa laparku, mengobrol dengan supir-supir yang sedang istirahat dan pasti mereka punya cerita baru hasil dari perjalanannya atau mengobrol dengan orang-orang kecil lainnya sambil menyumpah serapahi para pemerintah yang sedang bersenang-senang di kursi empuknya dalam ruangan yang ber AC tentunya, cukup lama aku di tempat ini sambil menunggu malam nanti rencanaku untuk berwisata.
            Akhirnya malam yang aku nanti sudah tiba, dengan memakai baju terbaikku aku langsung bergegas menuju tempat lokalisasi itu, tempatnya cukup besar dengan banyak kamar kecil di dalamnya.. setelah melihat-lihat aku memilih gadis yang ku suka, aku suka dengan indah bola mata gadis ini. Dalam waktu singkat kami berdua sudah ada dalam kamar kecil ini, aku mulai basa-basi sambil berkenalan dengannya.. namanya Intan dan ternyata dia baru bekerja disini selama tiga minggu.. pantas saja aku agak asing dengan wajahnya, tapi jujur saja.. tatapan matanya berbeda dengan gadis lain yang pernah melayaniku disini, aku penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh lagi.. entalah apa yang menyebabkan hatiku semakin bergejolak ketika dia menatapku, ku lihat dalam-dalam mata sayu itu, aku melihat sebuah garis penderitaan di bola matanya, ya sama seperti aku melihat kedua mataku saat aku bercermin. Entah apa yang merasuki jiwaku saat itu, aku membayarnya hanya untuk mendengarkan dia bercerita di sampingku, aku merasakan sesuatu yang beda dalam diri ini, entahlah.. tapi yang jelas rasa ini belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam hidupku, apakah ini bahagia?? Sering aku merasa bahagia ketika menang judi atau berhasil mencopet.. tapi bahagia ini sungguh beda, sambil mendengarkan cerita hidup Intan aku larut dalam kebahagiaan itu. Akhirnya waktuku habis.. Intan berjanji akan melanjutkan ceritanya ketika kita bertemu lagi, dia juga merasa aneh padaku.. kenapa aku membayarnya hanya untuk mendengarkan dia bercerita. Sekali lagi entahlah apa namanya ini yang jelas aku bahagia saat di dekatnya, bahagia yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
            Semakin hari rasa ini benar-benar menyiksaku, aku “ketagihan” untuk bertemu Intan dan perasaan ganjil ini yang membuatku lebih giat mencari uang agar aku bisa sesering mungkin ke tempat Intan bekerja dan mendengarkan semua kisah klasik hidupnya. Intan yang malang, dia ternyata senasib denganku bahkan nasibnya lebih buruk daripadaku, dia sejak kecil hidup di panti asuhan dan tak tahu siapa orang tua yang telah melahirkannya dulu sampai ketika dia beranjak remaja seorang wanita setengah baya mengadopsinya, dia mulai merasakan bangku sekolah di SMP waktu itu.. sampai akhirnya wanita yang mengadopsinya kembali menikah dengan pria lain, karena mantan suaminya dipenjara untuk waktu yang tak sebentar. Namun malang nasibnya, dirinya di nodai oleh ayah tirinya yang baru, bukan hanya sekali atau dua kali tapi sampai intan hamil karena ulah bejat lelaki itu, dia pun memutuskan untuk kabur dari rumah wanita itu karena dia fikir andai ibu angkatnya mengetahui semua ini pastilah rumah tangganya akan hancur kembali, dan intan tak mau melihat hal itu terjadi, biar saja dia yang akan menanggung aib nya sendiri.. sampai akhirnya dia menjadi gelandangan sepertiku, merasakan kerasnya hidup di jalanan sepertiku, bahkan mungkin itu lebih keras baginya karena dia seorang wanita yang tengah mengandung di usianya yang masih muda. Sampai akhirnya karena terlalu sering kecapean dan rahimnya yang masih muda untuk usianya dia mengalami keguguran di usianya yang masih belia.
            Waktu terus berputar dengan cepatnya dan aku masih sering menemui intan untuk bertukar cerita dengannya, berbagi pengalaman pahit hidup dan menceritakan kisah kita berdua yang jujur saja itu semua membuatku semakin nyaman berada dekat dengan dirinya, untuk sekian kalinya aku tak dapat meluapkan perasaanku saat itu dengan kata-kata, hanya hati ini yang dapat berbicara tentang rasa yang mengekangku, sampai pada suatu malam aku mengungkapkan semuanya pada intan, perlahan rona wajahnya berubah.. bibir tipisnya yang di balut lipstik merah itu tersenyum, tetesan air mata jatuh di kedua sudut matanya.. dia semakin terlihat cantik malam itu. Intan hanya menganggukan kepala perlahan ketika aku berkata padanya bahwa aku ingin hidup bersamanya untuk selamanya, memulai hidup baru yang lebih baik.. meninggalkan dunia kelam yang saat ini kita jalani, yah.. dia mau pergi bersamaku tanpa terbersit rasa ragu di gurat wajahnya, malam itu langit secerah hati dan harapanku, Intan memelukku sejenak sebelum aku pulang dan berjanji akan menjemputnya esok pagi dari tempat ini.
            Aku sekarang sudah duduk di kursi kereta ini, disampingku nampak intan dengan wajah cerianya menggenggam erat jemari tanganku.. wajahnya seakan berkata bahwa kita pasti bisa hidup bersama dengan lebih baik, dan melewati semua ini berdua. Kalian tahu?? Tak tau kemana sekarang aku harus pergi, aku hanya ingin meninggalkan kota ini dengan sejuta cerita kepedihannya, yang pasti aku selalu merasa tenang saat disampingnya, saat menatap wajah tegar miliknya. Mungkin ini terasa gila, aku pergi ke kota lain bersamanya dan berharap ada secercah harapan baru yang lebih baik untuk hidup kita berdua tanpa aku tahu apa yang harus aku lakukan disana, aku hanya ingin merubah semuanya.. dan yang ku tahu tuhan pasti mendengar bisikan hatiku yang berharap padanya, dan yang ku yakini.. Tuhan tak akan pernah membenciku sedikitpun walau dulu aku sempat membencinya sebelum aku bertemu dengan Intan, yah.. dialah malaikat yang sempat tuhan kirimkan untukku agar aku bisa bangkit dan bangun dari mimpi burukku selama ini, dialah tetesan semangat yang telah membasuh hatiku agar dia tak layu dan lantas mati. Dia lah yang kini menjadi setitik cahaya dalam gelapnya hari-hariku.. ternyata tuhan maha adil, telah ku temukan setitik cahaya dalam keruhnya kehidupanku. Ternyata Tuhan masih memperhatikanku jauh dari atas sana, seorang pendosa yang dulu sering meragukan-NYA
            Aku kecup kening bidadari yang sudah terlelap dan bersandar dibahuku ini, tak terasa kereta perlahan sudah berlari meninggalkan kota lamaku, tempat aku menemukan arti hidup dari seorang pelacur di pinggiran terminal.
            Mungkin kisah cintaku tak seromantis kisah romeo dan juliet, atau mungkin rama dan sinta dengan masing-masing ceritanya, ceritaku hanya satu dari miliyaran cerita cinta yang ada di bumi ini. Tapi setidaknya cinta ini yang membuat hatiku berkata bahwa aku harus meninggalkan kehidupan kelamku dan mulai berdamai dengan masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar