Aku masih terduduk lesu di depan kios-kios yang sebentar lagi akan
tutup ini, Matahari sudah terlihat bersiap-siap untuk tergelincir dan
beristirahat di malam ini.. langit yang memayungi kota ini cukup cerah,
bercampur dengan suara bising klakson kendaraan yang lalu lalang juga debu dan
asap dari knalpot-knalpot angkutan umum dan bis-bis yang ada di terminal itu.
Hari ini cukup cerah seperti hari-hari sebelumnya.. mungkin hanya hidupku saja
yang kelam, entahlah.. yang jelas aku hanya menjalani kerasnya hidup ini dan
mencoba tetap bertahan, apa salahku?? Aku hanya seorang remaja berumur 19 tahun
yang entah dari siapa aku dilahirkan dan juga kemana orang tua ku sekarang.
Orang lain bilang malaikat di bumi itu adalah ibu.. lalu kemana sekarang
malaikatku itu?? Kenapa dulu aku di temukan di dalam sebuah kardus yang di
tinggalkan dekat tempat pembuangan sampah?? Mungkin hanya itu sekilas cerita
yang kutau dari asal usulku.. Ibu panti yang dulu sempat menceritakan itu
semua, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kabur dan lari ke terminal ini,
toh aku fikir aku masih bisa mencari uang dari hasil ngamen, disini juga aku
bebas melakukan semuanya.. nyopet,ngeroko,mabuk?? Alah.. itu sudah jadi
rutinitasku ko.
Malam ini hujan turun di iringi
jeritan petir di atas langit sana yang sempat membuyarkan lamunanku, entahlah..
terkadang aku benci dengan kehidupan ini, aku benci dengan orang-orang tua
berkerah dan berdasi yang duduk tenang di gedung mewah yang terhalangi pagar
besi yang menjulang tinggi ke cakrawala,
aku juga benci pada kedua orang tua yang telah menelantarkanku dulu,
andai saja aku bisa bertemu saat ini dengan mereka berdua.. sudah barang tentu
akan ku caci maki mereka dan ku cabik-cabik isi dadanya, agar mereka juga
merasakan penderitaan yang sama dengan yang aku rasakan saat ini.. adil bukan??
Alaaah jangan bicara keadilan di negri ini.. sudah tentu keadilan itu hanya
bagi mereka yang berdompet tebal dan mempunyai jabatan.. seperti sebagian orang
yang sering menjadi mangsaku saat aku mencopet, dan terakhir.. saat ini aku
membenci Tuhan !! aku tak pernah meminta untuk di lahirkan padanya, apalagi
dengan kondisi seperti sekarang ini.
Hujan mulai reda.. mungkin malam
sudah terlampau larut, tapi terminal ini tak pernah sepi.. aku langsung
berjalan menuju kerumunan orang yang sedang bertaruh peruntungan di sebrang
terminal sana, yah.. aku berjudi untuk melipat gandakan hasil mencopetku..
sehingga aku bisa membeli baju dan sepatu ini.. sehingga aku bisa memasang
tindik di telingaku.. dan aku bisa mendapatkan kontrakan untuk berteduh di
belakang terminal ini, walau hanya beralaskan kardus dan beratapkan seng
bekas.. sekali lagi aku mendapat pelajaran, tak pernah ada yang gratis di
negara ini, walaupun hanya lahan kumuh di pinggir-pinggir kali ataupun di
belakang terminal, kau harus tetap membayarnya. Malam ini nampaknya Dewi
Fortuna sedang berada di pihakku.. dalam 5 kali putaran aku mendapatkan
semuanya, sampai bandar pun geleng-geleng kepala karena pagi ini dia harus
pulang dengan tangan kosong. Inilah hidup, banyak jalan pintas yang bisa kau
lalui.. dosa?? Hina?? Tenanglah.. mereka para pemimpin itu juga akan kebagian
dosanya toh aku menjadi anak gelandangan gara-gara keserakahan mereka yang tak
pernah kenyang melahap semuanya.. andai negri ini makmur, sudah pasti tak akan
ada orang-orang seperti kami.. dan bahkan mereka jelas jauh lebih hina daripada
kita, dengan label pendidikan yang tinggi dan macam-macam gelar panjang yang
ada di belakang namanya mereka mencuri, mencuri dari rakyat kecil seperti
kami.. mencuri semua yang ada di negri ini, bukan hanya uang tetapi semuanya !!
Hari sepertinya sudah semakin pagi,
aku segera pulang karena bandar sudah menutup lapaknya malam ini.. pasti esok
hari dia bekerja keras agar bisa kembali membuka lapak judi miliknya untuk esok
malam. Pagi ini aku bisa tidur nyenyak dan mimpi indah.. hari ini aku tak akan
ngamen, tak akan pergi ke terminal.. aku hanya akan duduk manis sambil
menuangkan minuman keras di gubukku.. aku akan berlagak seperti orang kaya hari
ini. Mabuk sepusnya, makan sampai kenyang dan tidur pulas tentunya, tak ada
salahnya bukan aku ingin menikmati kesenangan semu dalam puing reruntuhan hidupku
ini, malam nanti aku akan puaskan hasratku dan tentunya tempat lokalisasi di
ujung jalan ini tepat untuk menjadi tempat wisataku nanti. Mataku kini mulai
terasa berat.. sambil di iringi adzan subuh yang berkumandang aku sudah tak
kuasa untuk menahan rasa kantuk ini.. perlahan gelap dan sunyi yang aku rasakan
sampai akhirnya akupun terlelap dengan sejuta mimpi indahku di pagi ini.
Suara hingar bingar klakson bis dan
angkutan umum bercampur dengan para calo yang berteriak-teriak pada para calon
penumpang agar menaiki bis yang akan membayar hasil calonya dan juga
suara-suara pedagang asongan yang lebih seperti memaksa agar jualannya di beli
oleh para penumpang di terminal itu membangunkanku dari mimpi indah ini.. tak
terasa sang matahari telah bertengger di atas langit sana dengan gagahnya,
rupanya hari sudah kelewat siang. Aku sejenak memperhatikan mereka, setiap hari
banting tulang untuk menyambung hidup..sebagian dari mereka masih saja mencari
jalan yang halal untuk hidupnya, tak seperti aku dan beberapa kawanku.. aku
hanya tersenyum sinis sambil mengejek dalam hati ini “huhh.. kapan mereka
akan kaya jika hanya bekerja seperti itu, tak ada kemajuan !! ” aku lantas
pergi ke warung makan di samping terminal.. memuaskan semua rasa laparku,
mengobrol dengan supir-supir yang sedang istirahat dan pasti mereka punya
cerita baru hasil dari perjalanannya atau mengobrol dengan orang-orang kecil
lainnya sambil menyumpah serapahi para pemerintah yang sedang bersenang-senang
di kursi empuknya dalam ruangan yang ber AC tentunya, cukup lama aku di tempat
ini sambil menunggu malam nanti rencanaku untuk berwisata.
Akhirnya malam yang aku nanti sudah
tiba, dengan memakai baju terbaikku aku langsung bergegas menuju tempat
lokalisasi itu, tempatnya cukup besar dengan banyak kamar kecil di dalamnya..
setelah melihat-lihat aku memilih gadis yang ku suka, aku suka dengan indah
bola mata gadis ini. Dalam waktu singkat kami berdua sudah ada dalam kamar
kecil ini, aku mulai basa-basi sambil berkenalan dengannya.. namanya Intan dan
ternyata dia baru bekerja disini selama tiga minggu.. pantas saja aku agak
asing dengan wajahnya, tapi jujur saja.. tatapan matanya berbeda dengan gadis lain
yang pernah melayaniku disini, aku penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh
lagi.. entalah apa yang menyebabkan hatiku semakin bergejolak ketika dia
menatapku, ku lihat dalam-dalam mata sayu itu, aku melihat sebuah garis
penderitaan di bola matanya, ya sama seperti aku melihat kedua mataku saat aku
bercermin. Entah apa yang merasuki jiwaku saat itu, aku membayarnya hanya untuk
mendengarkan dia bercerita di sampingku, aku merasakan sesuatu yang beda dalam
diri ini, entahlah.. tapi yang jelas rasa ini belum pernah aku rasakan
sebelumnya dalam hidupku, apakah ini bahagia?? Sering aku merasa bahagia ketika
menang judi atau berhasil mencopet.. tapi bahagia ini sungguh beda, sambil
mendengarkan cerita hidup Intan aku larut dalam kebahagiaan itu. Akhirnya waktuku
habis.. Intan berjanji akan melanjutkan ceritanya ketika kita bertemu lagi, dia
juga merasa aneh padaku.. kenapa aku membayarnya hanya untuk mendengarkan dia
bercerita. Sekali lagi entahlah apa namanya ini yang jelas aku bahagia saat di
dekatnya, bahagia yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Semakin hari rasa ini benar-benar
menyiksaku, aku “ketagihan” untuk bertemu Intan dan perasaan ganjil ini yang
membuatku lebih giat mencari uang agar aku bisa sesering mungkin ke tempat
Intan bekerja dan mendengarkan semua kisah klasik hidupnya. Intan yang malang,
dia ternyata senasib denganku bahkan nasibnya lebih buruk daripadaku, dia sejak
kecil hidup di panti asuhan dan tak tahu siapa orang tua yang telah
melahirkannya dulu sampai ketika dia beranjak remaja seorang wanita setengah
baya mengadopsinya, dia mulai merasakan bangku sekolah di SMP waktu itu..
sampai akhirnya wanita yang mengadopsinya kembali menikah dengan pria lain,
karena mantan suaminya dipenjara untuk waktu yang tak sebentar. Namun malang nasibnya,
dirinya di nodai oleh ayah tirinya yang baru, bukan hanya sekali atau dua kali
tapi sampai intan hamil karena ulah bejat lelaki itu, dia pun memutuskan untuk
kabur dari rumah wanita itu karena dia fikir andai ibu angkatnya mengetahui
semua ini pastilah rumah tangganya akan hancur kembali, dan intan tak mau
melihat hal itu terjadi, biar saja dia yang akan menanggung aib nya sendiri..
sampai akhirnya dia menjadi gelandangan sepertiku, merasakan kerasnya hidup di
jalanan sepertiku, bahkan mungkin itu lebih keras baginya karena dia seorang
wanita yang tengah mengandung di usianya yang masih muda. Sampai akhirnya karena
terlalu sering kecapean dan rahimnya yang masih muda untuk usianya dia
mengalami keguguran di usianya yang masih belia.
Waktu terus berputar dengan cepatnya
dan aku masih sering menemui intan untuk bertukar cerita dengannya, berbagi
pengalaman pahit hidup dan menceritakan kisah kita berdua yang jujur saja itu
semua membuatku semakin nyaman berada dekat dengan dirinya, untuk sekian
kalinya aku tak dapat meluapkan perasaanku saat itu dengan kata-kata, hanya
hati ini yang dapat berbicara tentang rasa yang mengekangku, sampai pada suatu
malam aku mengungkapkan semuanya pada intan, perlahan rona wajahnya berubah..
bibir tipisnya yang di balut lipstik merah itu tersenyum, tetesan air mata
jatuh di kedua sudut matanya.. dia semakin terlihat cantik malam itu. Intan
hanya menganggukan kepala perlahan ketika aku berkata padanya bahwa aku ingin
hidup bersamanya untuk selamanya, memulai hidup baru yang lebih baik..
meninggalkan dunia kelam yang saat ini kita jalani, yah.. dia mau pergi
bersamaku tanpa terbersit rasa ragu di gurat wajahnya, malam itu langit secerah
hati dan harapanku, Intan memelukku sejenak sebelum aku pulang dan berjanji
akan menjemputnya esok pagi dari tempat ini.
Aku sekarang sudah duduk di kursi
kereta ini, disampingku nampak intan dengan wajah cerianya menggenggam erat
jemari tanganku.. wajahnya seakan berkata bahwa kita pasti bisa hidup bersama
dengan lebih baik, dan melewati semua ini berdua. Kalian tahu?? Tak tau kemana
sekarang aku harus pergi, aku hanya ingin meninggalkan kota ini dengan sejuta
cerita kepedihannya, yang pasti aku selalu merasa tenang saat disampingnya,
saat menatap wajah tegar miliknya. Mungkin ini terasa gila, aku pergi ke kota
lain bersamanya dan berharap ada secercah harapan baru yang lebih baik untuk
hidup kita berdua tanpa aku tahu apa yang harus aku lakukan disana, aku hanya
ingin merubah semuanya.. dan yang ku tahu tuhan pasti mendengar bisikan hatiku
yang berharap padanya, dan yang ku yakini.. Tuhan tak akan pernah membenciku
sedikitpun walau dulu aku sempat membencinya sebelum aku bertemu dengan Intan,
yah.. dialah malaikat yang sempat tuhan kirimkan untukku agar aku bisa bangkit
dan bangun dari mimpi burukku selama ini, dialah tetesan semangat yang telah
membasuh hatiku agar dia tak layu dan lantas mati. Dia lah yang kini menjadi
setitik cahaya dalam gelapnya hari-hariku.. ternyata tuhan maha adil, telah ku
temukan setitik cahaya dalam keruhnya kehidupanku. Ternyata Tuhan masih
memperhatikanku jauh dari atas sana, seorang pendosa yang dulu sering
meragukan-NYA
Aku kecup kening bidadari yang sudah
terlelap dan bersandar dibahuku ini, tak terasa kereta perlahan sudah berlari
meninggalkan kota lamaku, tempat aku menemukan arti hidup dari seorang pelacur
di pinggiran terminal.
Mungkin kisah cintaku tak seromantis
kisah romeo dan juliet, atau mungkin rama dan sinta dengan masing-masing
ceritanya, ceritaku hanya satu dari miliyaran cerita cinta yang ada di bumi
ini. Tapi setidaknya cinta ini yang membuat hatiku berkata bahwa aku harus
meninggalkan kehidupan kelamku dan mulai berdamai dengan masa lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar